MENUMBUHKAN RASA CINTA PUASA PADA ANAK

 







Salah satu bentuk persiapan untuk menyambut ramadan ialah dengan berilmu.

من طلب العلم للعمل وفقه الله ومن طلب العلم لغير العمل يزداد بالعلم فخرا

Ilmu itu harus ada sebelum berkata dan berbuat. Ilmu itu tentang bagaimana mendidik anak-anak kita dibulan ramadan. Kita ibadah, maka anak-anak juga melakukannya.

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Maka dari itu, kita harus pikirkan soal ini karena tidak boleh meninggalkan seseorang yang sebagai hak dan kewajiban kita.

warojulun roin fii ahlihi wa masulun 'arro'iyyati

“Setiap diri kita akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya”

Ali  bin Abi Thabi mengatakan : Ajarkan mereka agama, dan ajarkan mereka adab. Ajarkan ilmu agama pada mereka, kepada anak-anak kalian.

Bagaimana mengenalkan anak ibadah puasa ?

1.     1.  Ketika Anak Belum Mumayyiz, Ajarkan Dengan Perbuatan

Bila anak masih belum mumayyiz, belum tamyiz maka ajarkanlah puasa dengan kita sebagaimana orangtua berpuasa. Ajarkan mereka dengan perbuatan agar meniru perilaku baik yang kita lakukan. Diumur yang sekian, merek masih belum memahami betul namun mereka sudah berpikir  “sepertinya bulan ini beda dari biasanya” karena melihat ayah dan ibunya selalu berpuasa dan lebih banyak beramal daripada biasanya.

Tanda anak sudah mumayyiz atau tamyiz ialah yafhamul khitob (memahami dengan baik, dan dapat membalas perbuatan juga perkataan dengan baik) dan ini setiap anak berbeda range usia yang dialami.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman 

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-furqan:74)

Al imam at thabari menukilnya, menafsirkannya pada bagian وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “para imam-ima yang dicontoh, dijadikan teladan”

Artinya adalah jadikanlah kami teladan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, agar kita berusaha menjadi orang yang bertakwa, berharap agar kita menjadikan teladan buat orang orang lain agar mencontoh juga dengan ketaqwaan.

2.      2.Ketika Sudah Mumayyiz, Mulai Dijelaskan

Sebagaimana yang Allah Ta’ala Jelaskan ketika para nabi memberi penjelasan pada anak-anaknya.

 

وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبْرَٰهِۦمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

 

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS. Al-baqarah:132)

Pengajaran tidak hanya sekali namun butuh pengulangan, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa mengulang pelajaran yang dibutuhkan.

3.      3Perintahkan Puasa Ketika Anak Usia 7 Tahun

Jika sebelum 7 tahun  dan mampu puasa maka ajarkan puasa tentunya dengan kelonggaran-kelonggaran, misalnya ½ hari. Sehingga saat anak usia 7 tahun dia sudah mampu puasa 1 hari penuh.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wa salam bersabda

عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: مُرُوا أولادَكم بالصلاةِ وهم أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، واضْرِبُوهُمْ عليها، وهم أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ

Artinya: Dari Amr Bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat sedang mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka karena tinggal sholat sedang mereka berusia 10 tahun dan pisahkan antara mereka di tempat tidurnya.” (H.R Abu Daud)

4.    4. Ajak Anak Dalam Beribadah

Anak dibersamai melakukan ibadah bersama orangtua, sebagaimana dicontohkan oleh para nabi ‘alaihisallam. Sebagaimana contoh nabi ibrahim kepada Nabi ismail

Allah ta'ala berfirman 

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِۦمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

 

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

5.     5. Membersamai Mereka Ketika Puasa

Dengan Melibatkan mereka ketika puasa,berbuka, membaca Al Qur’an, shalat terawih, berbagi malam berbuka dan amalan lainnya, meski belum tamyi ketika beribadah pahalanya akan tercatat.

Dari Ar Rubayyi' bin Al Mu'awwidz radhiallahu'anha, ia berkata:

أَرْسَلَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إلى قُرَى الأنْصَارِ: مَن أصْبَحَ مُفْطِرًا، فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَومِهِ ومَن أصْبَحَ صَائِمًا، فَليَصُمْ، قالَتْ: فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ، ونُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، ونَجْعَلُ لهمُ اللُّعْبَةَ مِنَ العِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أحَدُهُمْ علَى الطَّعَامِ أعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حتَّى يَكونَ عِنْدَ الإفْطَارِ

“Bahwa di pagi hari Asyura, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beberapa sahabat ke kampung-kampung Anshar (ketika puasa diwajibkan). Untuk menyampaikan: “Siapa yang hari ini sudah sarapan, hendaknya dia puasa di sisa harinya. Dan siapa yang berpuasa, hendaknya dia lanjutkan puasanya”. Ar Rubayyi’ berkata, “Kamipun berpuasa setelah itu, dan kami mengajak anak-anak kami untuk berpuasa. Kami membuatkan untuk mereka boneka dari kapas. Jika mereka menangis karena minta makan, kami berikan boneka tersebut. Demikian terus sampai datang waktu berbuka” (HR. Bukhari no. 1960).

Jangan bermudahan ketika anak merengek minta makan lalu kita berikan makanan. Sehingga anak-anak menjadi lemah dan tidak sabar. Namun jika ada mudhorot yang lebih besar maka boleh berbuka.

6.   6.   Reward & Punisment

Berikan reward ketika mereka berhasil puasa 1 hari penuh.

7.     7. Antara Longgar & Ketat

Jika anak lemasa dan tidak kuat tidak apa berbuka, namun jangan terlalu longgar juga ketika merengak sedikit lalu berbuka.

Al mutharif mengatakan Sebaik-baik  perkara ialah yang pertengahan

8.   8. Berusaha Menyebutkan Dalil

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah– mengatakan:

Sebaiknya anak-anak diberikan pengetahuan tentang hukum-hukum sesuatu beserta dalil-dalilnya. Misalnya, ketika anda mengatakan kepada anak anda: “Bacalah basmalah saat akan makan, dan bacalah hamdalah saat kamu selesai makan!“, jika anda mengatakan itu; maka maksud perintahnya sudah tercapai.

Tapi bila anda mengatakan: “Bacalah basmalah saat akan makan, dan bacalah hamdalah saat kamu selesai makan, karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menyuruh (kita) agar membaca basmalah sebelum makan, beliau juga mengatakan: ‘Sungguh Allah meridhoi seorang hamba yang memakan sesuap makanan dan dia membaca hamdalah karenanya, dan (seorang hamba) yang meminum seteguk minuman dan dia membaca hamdalah karenanya!“. Anda akan mendapatkan 2 manfaat:

Pertama: Anda membiasakan anak anda untuk mengikuti dalil.

Kedua: Anda mendidik anak anda untuk mencintai Rasul –shallallahu alaihi wasallam-, dan bahwa Rasul –shallallahu alaihi wasallam– adalah seorang imam/pemimpin panutan yang wajib diikuti arahan-arahannya.

Dan hakekat ini banyak dilalaikan, kebanyakan orang mengarahkan anaknya kepada hukum-hukumnya saja, namun dia tidak mengaitkan arahan itu dengan sumbernya, yaitu: Al Kitab dan As Sunnah.

(Al-Qoulul Mufid ala Kitabit Tauhid, 2/423).

9.    9.  Berdoa Kepada Allah Meminta Hidayah

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dahulu berdoa:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40).

Karena Allah lah yang membolak-balikan hati manusia. Setelah semua upaya dilakukan, gantungkan hati dan serahkan semua urusan kepada Allah. Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya. Semoga Allah memberi taufik.

Semoga Allah ta'ala memberi taufik.

Komentar