KIAT AGAR ILMU TIDAK HILANG


Kiat Agar Ilmu Tidak Hilang

🎙 Bersama: Ustadz Aris Munandar حفظه الله تعالى.

__

Hal ini adalah satu pembahasan penting dan bersifat praktis dalam niat menuntut ilmu, yang patut disadari oleh penuntut ilmu, semoga Allah selalu beri taufiq agar semestinya melakukan metode-metode menuntul ilmu. 

1. Menghafal
Seorang penuntut ilmu, harusnya memiliki aktifitas menghafal. Tidak ada menuntut ilmu tanpa menghafal, maka bila kita adalah penuntut ilmu sesungguhnya haruslah memiliki aktifitas menghafal.

2. Berguru
Selanjutnya, aktifitas menuntut ilmu bersama guru, senior dalam ilmu, agar bisa membantu kita dalam memahami dalam ilmu.

3. Aktifitas Membaca buku
Seorang penuntut ilmu harusnya menggabungkan ketiga ini secara seimbang, ada waktu menjaga hafalan, dan menghafal, belajar langsung dengan guru, boleh jadi guru ideal, dalam status senior dalam ilmu, dan juga membaca buku.

Hendaknya seorrang penuntut ilmu menggabungkan ketiga di atas dalam menuntut ilmu. Jika kita sudah dalam level tertentu dalam menuntut ilmu, maka perlu ditambahkan metode yang ke 4 yakni, menulis.

4. Menulis. 
Menulis artikel, atau makalah. Mengkaji suatu permasalahan tertentu, penelitian pustaka, kemudian hasil dari semua itu dijadikan bahts ilmi, yang dijadikan dalam boleh jadi ini terlintas dalam pikiran kita, agar memudahkannya dipahami oleh orang lain tentang ini semua agar memudahkan yang lain dalam memahaminya.


PEMBAHASAN 

1. Aktifitas menghafal

Berkenaan dengan hal ini, ilmu itu memiliki 2 aspek yakni :
- aspek hafalan 
- aspek pemahaman "al fahmu"

Tidak ada ilmu tanpa menghafal, dan tidak ada ilmu jjika tidak paham akan kalimat ilmu. 

Idealnya menghafal al-Quran ini adalah fase pertama dalam aktifits belajarnya. Namun jika hal ini berat, atau emmiliki keterbatasan waktu makabaiknya tetap beri waktu atau porsikan waktu untuk menghafal.

Kemudian menghafal hadits, menghafal sejumlah buku-buku ringkasan (hifdzul mutun) semacam:
- arbain nawawiyah
- qawaidul arba' 
- Qowaidul fiqhiyaah 
- tslatsatul ushul 
- bisa mengikuti panduan level yang bisa diikuti ialah kutaib dari syaikh abbdul Muhsin al qasim, mutun thullabul ilmi.


Buku buku ini dihafalkan sesuai dengan kesanggupan dan kadar kita. Jika tidak bisa menghafal mutun-mutunya maka minimal kita mengetahui makna isi dari mutun tersebut dengan mengulang-ulang dalam membacanya agar melekat dibenak kita.

Semoga Allah memberi kemudahan agar diperbanyak dan dinafi'kan dalam ilmu yang kita raih agar kita termasuk orang yang beruntung. 


2. Aktifitas Belajar langsung kepada guru

Tidak semua orang yang berilmu layak dijadikan guru, maka ada aspek yang layak menjadikan seseorang layak disebut atau dijadikan guru, dari Syaikh sholih al-Ushoimy dalam kitabnya, orang yang layak dijadiikan guru ada 2 yakni :

1. Mufid
Yakni orang yang memberi manfaat, memberikan faedah, orang yang kompeten, faham akan ilmu yang hendak pelajari, agar kita tidak salah orang, ustadz-ustadz itu juga memiliki beda-beda spesialisasi ilmu yang mereka kuasai. Maka, seorang ustadz semestinya memiliki kemampuan pemahaman global atas semua hal, namun bila ingin memetik paham yang mendalam, maka tanyakan kepada yang para ahlinya, jangan sebaliknya. Semisal contoh, ustadz ahli hadist jgn tanyakan soal penyakit gigi dsb.

2. Naashih. Orang yang menginginkan kebaikan kepada muridnya, seorang guru itu haruslah seorang yang nasikh, dan nasikh ini mengandung dua makna yakni :

● Yang pertama, dapat dijadikan sebagai panutan dalam adab dan akhlak, kedisiplinan waktunya, perhatian terhadap shalat dll. Jika kita belajar kepada guru, bukan hanya kita belajar tentang ilmu yang dimiliki atau aspek yang dimiliki, tapi jug aakhlaknya. Maka semestinya kita tidak menjadikanguru kepada semua orangg yang berilmu,karena bisa saja ia tidak layak menjadi guru (baik dari segi keilmuan maupun akhlaknya)

● Makna kedua nasikh ialah paham metode mentransfer ilmu (memiliki kemampuan mengajar yang baik) faham mentadris ilmu atau memahamkan ilmu yang dimiliki kepada muridnya.


3. Aktifitas membaca buku 

Kegiatan yang ketiga dari penuntut ilmu sejati, ialah membaca buku dan pentingnya dalam membaca buku ini adalah sifat praktis dalam mencatat, harus punya cara mencatat yang baik dan benar. Mencatat hasil belajar dari guru, hadir langsung di majelis ilmu, secara offline atau online, tidak dengan modal kuping mendengar tanpa mencatat dan memahami.

Mencatat ilmu ada 2 hal yang perlu diperhatikan

   a. Mencatat hasil belajar dari guru.
Pepatah arab seringkali mengatakan, hafalan itu seringkali khianat. Jadi jangan terlalu menyandarkan dan sangat pede dengan apa yang kita seperti yang disampaikan oleh ibnu abdil barr dari anas bin malik, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

Ikatlah ilmu dengan dengan menulisnya"

(Silsilah ASh-Shahihah no. 2026)

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ

فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya

Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat


Hal yang perlu dicatat dalam sebuah kajian atau penyampaian ilmu.

    - Mencatat dalil; hadist nabi yang disampaikan, perkataan yang penting
    - Qawaid, kaedah dalam tafsir, dan nahwu
    - Hal-hal unik, ini adalah tambahan yang bisa dicatat, namun mengandung hikmah yang bergantung pada kasus di kajian yang disampaikan semisal kejadian hidupnya dan ini adalah indikator kuat bahwa bila orang paham tentang fawaid beliau, maka kita adalah murid tetap beliau, atau dapat dikatakan, kita belajar secara kontinyu terhadap satu guru, dan istimror.

Hendaknya jika pulang dari kajian untuk memurojaah kembali ilmu yang didapat dan berulang hingga ilmu tersebut melekat dalam benak kita.

  b. Mencatat ilmu dari hasil membaca buku
Seorang penuntut ilmu hendaknya untuk senantiasa membaca buku, tidaklah dikatakan penuntut ilmu sejati jika tidak membaca buku, karena hal itu bisa saja ia dikatakan sebagai penikmat ilmu.

Seorang yang ingin emmbaca buku yang bermanfaat hendaknya bertanya kepada ahlinya (pakar atau senoior dalam menuntut ilmu) dari buku yang paling penting dan yang sesuai level kita.

     Kaidah dalam Membaca Buku

     1). Ketahuilah apa yang dibaca
Jangan sampai kita membaca buku yang bukan level kita. Demikian juga belajar agama. Jika kita belajar bukan di level kita, maka bisa saja kita menjadi tidak semangat dalam belajar. Karena menuntut ilmu itu ibarat menaiki tangga "Tangga Ilmu". satu persatu. dahulukan yang penting atau mendesak untuk diri kita

     2). Jangan membaca kecuali dalam keadaan konsentrasi
     3). Ketika memulai membaca buku hendaaknya menekadkan, meniatkan untuk kmendapatkan semua manfaat dalam buku 
tersebut sebanyak- banyaknya. 
     4). Wajib baca buku sambil memegang pena dan pena itu berinteraksi dengan buku (mennadai isi  buku)
     5). Mencatat faidah dalam buku tersebut. 
     6). Sebelum membaca buku hendaknya membaca penerbit, muqoddimah, dan daftar pustaka.

PENUTUP
Semoga dengan kiat-kiat ini memudahkan kita dalam menjaga ilmu yang dimiliki

الله تعالى أعلم


Dicatat oleh :
Tim Wlingi Mengaji
Intan Rahma Safrina 

Blitar, 30 Desember 2022 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Nasehat Untukmu Wahai Wanita Muslimah" oleh Ustadzah Intan Prameswari حفظها الله تعالى (Alumnus Kuliah Al-Haram Masjid Nabawi)

MENATA DIRI DI MASA PENANTIAN