ISTIQAMAH BERIBADAH DENGAN ILMU DAN AMAL DI BULAN MULIA
“Istiqomah Beribadah dengan Ilmu dan Amal di Bulan Mulia”
Kajian Spesial Semarak Ramadhan Wlingi Mengaji 1444 H
Oleh Ustadzah Intan Prameswari, BA
Allaah ta’ala berfirman:
﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴾
Syahru ramadhoonalladzi undzila fiihil qur’anu hudal lin naasi wa bayyinaatim minal hudaa wal furqoon, fa man syahida minkumussyahro falyasumh, wa man kaana mariidhan au ‘alaa safarin fa’iddatum min ayyamin ukhor, yuridullaahu bikumul yusro walaa yuridu bikumul usro wa litukmilul iddata wa litukabbirullaah ‘alaa maa hadaakum wa la’allakum tasykurun
Artinya:
“Bulan ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas-penjelas mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, Barang siapa di antara kamu ada dibulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari lain. Allah menghendaki kesukaran bagimu, hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur. (Q.S. Al-Baqarah:185).
Bulan Ramadhan adalah bulan mulia di mana bulan diturunkannya Al-Qur’an. Dalam setahun ada 12 bulan yang mana bukan perhitungan manusia namun telah disebutkan Allah dalam firmannya:
﴿إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ ﴾
Inna ‘iddatasy syuhuur ‘indallaahi itsna ‘asyaro syahron fii kitaabillaahi yauma kholakos samaawaati wal ardha min haa arba’atun hurum, dzaalikal diinul qayyimu falaa tazhlimu fiihinna anfusakum wa qaatilul musyrikiin kaafatan kamaa yuqootilunakum kaafatan wa’lamuu annallah ma’al muttaqiin
Artinya:
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana merekapun memerangi kaum semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang taqwa”. (Q.S. At-Taubah:36)
Bulan-bulan ini diciptakan Allah agar manusia mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah. Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dan jin hanya untuk satu tujuan bukan yang lain, yakni untuk beribadah kepada Allah.
Allah ta’ala berfirman:
﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴾
Wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun
Artinya:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku”. (Q.S. Adz-Zariyat:56)
Allah ta’ala berfirman:
﴿الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ﴾
Alladzi kholaqol mauta wal hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala wa huwal aziizul ghofur
Artinya:
“Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Q.S. Al-Mulk:2)
Allah menciptakan manusia untuk menguji yang paling baik amalannya, maka hendaknya kita merenungi dan mentadabburi ayat-ayat Allah subhanu wa ta’ala.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
﴿أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ﴾
A fa hasibtum annamaa kholaqnaakum ‘abatsan wa annakum ilaynaa laa turja’un
Artinya:
“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”. (Q.S. Al-Mu’minun:115).
Allah memberikan banyak ayat peringatan dalam Al-Qur’an, tetapi manusia masih juga lalai. Manusia berfikir mereka akan kekal, padahal dunia ini akan hilang. Jika manusia membandingkan akhirat dan dunia, dunia tidak ada artinya bahkan jika dibandingkan dengan setengah sayap lalat sekalipun.
Manusia berfikir dia akan kekal, padahal dunia itu akan hilang. Namun dengan luasnya Rahmat dan kasih sayang Allah ﷻ, Allah tahu jiwa-jiwa manusia yang mencintai keburukan, akhirnya Allah ﷻ menjadikan diantara 12 bulan tersebut ada satu bulan yang bergelimang ibadah dengan pahala yang agung.
Dalam bulan tersebut terdapat hari yang lebih baik dari 1000 bulan, dimana orang-orang yang beribadah kepada-Nya dengan ikhlas akan diampuni kesalahan dan dosanya yang telah lalu.
Bulan Ramadhan adalah bentuk cinta dan kasih sayang Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Bulan Ramadhan beberapa hari lagi akan datang, sambutlah dia dengan hangat, dan tekat yang kuat.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang bulan Ramadhan:
“Allah membebaskan banyak sekali manusia dari neraka setiap malam. Mereka yang beramal shalih. Maka sambutlah bulan Ramadhan dengan gembira dan penuh semangat”.
Kita membutuhkan ibadah dan pahala di bulan Ramadhan. Kita yang butuh musim Ramadhan, bukan Allah ﷺ yang butuh ibadah kita, kitalah yang butuh karena bergelimang dosa dan maksiat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَنَادَى مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ من النار وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang mencari kebaikan datanglah, dan wahai orang-orang yang menginginkan keburukan maka batasilah keburukan tersebut dan Allah membebaskan orang-orang dari api neraka, dan itu terjadi setiap malam”.
Allah tidak butuh puasa, shalat malam, dan ibadah kita. Sebaliknya kitalah yang butuh ibadah tersebut. Allah ﷻ mengerti kita butuh. Puasa adalah gongnya ibadah di bulan Ramadhan.
Allah ta’ala berfirman:
﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
Yaa ayyuhal ladziina aamanuu kutiba ‘alaykumus shiyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qoblikum la’allakum tattaquun.
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bisa bertakwa”. (Q.S. Al-Baqarah:183).
Salah satu hikmah syariat puasa adalah dimudahkan seseorang bertakwa dan menjauh dari larangan-larangan Allah ﷻ.
Dengan puasa melatih muraqabatullah, karena hanya dia dan Allah ﷻ yang tahu tentang puasanya.
Ayat diatas juga menunjukan bahwa kualitas ketakwaan perlu diusahakan. Tidak didapat dengan bersantai dan berangan-angan. Dalilnya Allah ﷻ menjadikan puasa sebagai wasilah untuk menggapai takwa. Artinya ada usaha, perjuangan, yang kita lakukan agar sampai pada tingkat ketakwaan yang Allah ﷻ inginkan.
Puasa disini tak hanya menahan makan dan minum saja. Ta’rif (pengertian) puasa adalah bentuk ibadah kepada Allah ﷻ dengan menahan diri dari makan dan minum serta seluruh pembatal puasa sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari.
Pengertian puasa dimulai dengan kalimat “Bentuk ibadah kepada Allah” tidak dimulai dengan menahan diri. Artinya puasa adalah ibadah yang terdapat didalamnya amalan qalbiyah (amalan hati). Sejak awal kita ingin berpuasa ada satu hal yang harus diperhatikan yakni niat dan keikhlasan kita.
Tidak akan diterima ibadah seoranghamba tanpa 2 komponen yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ). Setiap detiknya dari hari pertama sampai terakhir agar Ramadhan kita menjadi Ramadhan yang lebih baik.
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan buruk (kotor dan dusta), maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR.Bukhari)
Allah tidak butuh puasa orang yang hanya menahan rasa lapar dan dahaga saja. Padahal puasa adalah ibadah yang Allah ﷻ berikan untuk manusia. Karena tak ada bedanya puasa orang beriman dan tak beriman jika berpuasa seperti ini.
Terdapat 4 golongan:
- Tidak berilmu dan beribadah
- Berilmu dan tidak beribadah
- Berilmu dan giat dalam ibadahnya
- Tidak berilmu dan tidak pula beribadah
Seorang muslim yang ingin masuk ke dalam islam secara kaffah (sempurna) maka dia tidak akan meninggalkan amalan-amalan ibadah yang Allah perintahkan. Pada bulan Ramadhan semua orang semangat beribadah dengan karunia Allah ﷻ. Semangat puasa, shalat 5 waktu di masjid, semangat shalat malam. Mengapa bisa demikian?. Diantara sebabnya adalah ilmu seseorang tentang keutamaan bulan Ramadhan. Maka untuk istiqamah dan semangat di bulan Ramadhan kita butuh ilmu.
Ilmu kita tentang apa yang Allah ﷻ siapkan dibulan Ramadhan dan sikap tidak lalai akan agungnya bulan Ramadhan akan menentukan kualitas Ramadhan kita. Tanpa ilmu seseorang akan mudah terombang-ambing, dia akan mudah ikut-ikutan dalam ibadah. Karena sejak kecil dia terbiasa berpuasa dia akan ikut saja. Ketika dia akhirnya di lingkungan yang tidak bisa puasa dia pun tidak puasa.
Berikut hadis-hadis Rasulullah ﷺ tentang keutaman dibulan Ramadhan:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ketika awal pertama bulan Ramadhan dibelenggu syaithan-syaithan dan jin-jin yang buruk dan ditutup pintu neraka dan tidak dibuka satupun pintu neraka. Dibuka pintu-pintu surga dan tidak ditutup satupun dari pintu-pintu tersebut. Ada satu penyeru yang menyeru, “Wahai yang menginginkan kebaikan datanglah. Wahai yang menginginkan keburukan cukuplah dan Allah akan membebaskan manusia dari neraka setiap malam.
“Para ahli ilmu mengatakan, “Syaithan sudah tak berdaya jangan beralasan lagi untuk maksiat?”.
Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya, “Seluruh amalan anak adam itu untuknya, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya”.(HR. Bukhari dan Muslim).
Setiap amalan itu ada ketetapan pahalanya, namun puasa tidak Allah tetapkan pahalanya karena menjadi sebab dekatnya seorang hamba dengan-Nya. Sebagaimana pahala sabar yang hisabnya disisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa dibulan Ramadhan penuh keimanan dan ihtisab (mengharap pahal dari Allah) akan diampuni dosa yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang mengetahui keutamaan ini pasti akan bersungguh-sungguh dalam mengamalkan setiap amalannya. Janji Allah ﷻ itu pasti, namun tergantung keimanan kita dan ihtisab pahala kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya bulan ini telah datang kepada kalian, didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Baransiapa yang diharamkan dari malam tersebut maka dia diharamkan dari seluruh kebaikan. Dan tidak akan diharamkan seseorang kecuali dia mahrum”. (H.R. Ibnu Majah, Hasan, dishahihkan Syeikh Albani)
Seluruh manusia bisa mendapatkan malam Lailatul qadar kecuali orang yang tidak mau (mahrum).
Siapa yang tinggi iman, yakin, dan kekuatan hubungannya dengan Allah ﷻ maka dia akan istiqamah. Iman artinya ilmu tentang Allah ﷻ,
Allah ta’ala berfirman:
﴿ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾
Illalladzi aamanuu wa ‘amilusshaalihaati wa tawa sawbil haq wa tawa sawbis sabr
Artinya:
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. (Q.S. Al-‘Asr:3).
Agar kita istiqamah kita harus memulai segala sesuatu dengan ilmu, entah ilmu tentang Allah ﷻ atau ilmu tentang ibadah yang akan kita lakukan. Apakah cukup hanya dengan ilmu?
Allah ta’ala berfirman:
﴿وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ﴾
Wa minannaasi waddawaab wal an’aami mukhtalifun alwaanuhu kadzalika innama yakhsyallaha min ‘ibaadihil ulama innallaah ‘aziizun ghofur
Artinya:
“Dan demikian (pula) diantara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (jenisnya). Dianatar hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Q.S. Fatir:28)
Ibnu Mas’ud menafsirkan ayat tersebut “Tidaklah ilmu itu dengan banyaknya periwayatan hadis akan tetapi dengan besarnya rasa takut kepada Allah”.
Seseorang bisa dikatakan ‘alim apabila besar takutnya kepada Allah.
Imam Malik berkata: “Ilmu bukanlah tentang banyaknya periwayatan akan tetapi ilmu adalah cahaya yang Allah ﷻ berikan didalam hati.
Kita tidak mungkin istiqamah kecuali dengan menempuh jalan Rasulullah ﷺ. Di bulan Ramadhan tidak cukup dengan kata-kata saja tentang mengimani keutaman, menulis target, tetapi harus membuktikan dalam amalan.
Imam Al-Qurtubi mengatakan tentang istiqamah: “Berterusan di dalam satu arah saja tanpa melihat kekanan dan kekiri. Ibnu Qayyim menyatakan pengertian istiqamah dengan perkataan Umar “Istiqamah adalah engkau tegak diatas perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, engkau tidak bergerak kesana-kemari seperti pergerakannya serigala.
Istiqamah bukan berarti tidak melakukan kesalahan, dan tidak lalai. Istiqamah bermakna ketika melakukan kesalahan, lalai, dia segera bertaubat.
Allah ta’ala berfirman:
﴿قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ ﴾
Qul innama ana basyarum mitslukum yuuha ilayya annama ilaahukum ilaahun wahid fastaqiimu ilayhi wastaghfiruuhu wa waylul lilmusyrikiin
Artinya:
“Katakanlah (Muhammad), “Aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu tetaplah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang yang menyekutukanNya”. (Q.S. Fussilat:6)
Imam Ahmad Al-Hanbali menafsirkan ayat ini “Ada isyarat bahwa didalam istiqomah seorang hamba ada kekurangan akan tetapi kembali kepada Allah dan kembali kepada istiqomah”. Jatuh bangun dalam beribadah, ketika rajin manfaatkan semangat dengan ikhlaskan niat dan tidak ujub. Ketika malas, ingat tentang ilmu (keutaman bulan ramadhan) dan beristighfar kepada Allah.
Istiqomah dalam ibadah tidak datang begitu saja, perlu dilatih. Diantara sebab menggapainya:
- Ikhlas (orang yang tujuannya jelas melakukan sesuatu maka dia akan istiqomah)
- Ilmu syar’i (amalan tidak akan diterima tanpa ikhlas dan mutaba’ah)
- Mengerjakan amalan wajib dan sunnah, syaithan apabila tidak dapat menggoda manusia dalam maksiat, maka akan digoda dengan amalan sunnah dari pada amalan wajib. Barengi amalan wajib dengan amalan sunnah.
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan, tetapi pada bulan Ramadhan kedermawanan beliau meningkat, maka kita harus meningkatkan amalan sunnah kita dibulan Ramadhan. Amalan sunnah mampu dikerjakan seseorang karena dia dicintai oleh Allah ﷻ. Maka berusahalah untuk mengerjakannya. Ketika amalan kita diterima maka Allah memberikan taufik untuk mengerjakan amalan selanjutnya. Perbanyak ibadah dalam kesendirian agar mampu ikhlas. Kurangi interaksi dengan orang lain dibulan Ramadhan. Tadabbur Al-Qur’an.
Insya Allah kita akan paham jika meresapi maknanya. Pupuklah keinginan beribadah kepada Allah saja, tidak usah diposting, cukupkan antara kita dengan Allah ﷻ saja.
Amalan baik akan mengundang amalan baik lainnya. Kita sudah banyak menerima nasihat tetapi kurang mengamalkan. Kebanyakan teori kurang amal. Apa yang kita ketahui maka kita amalkan, paksakan diri kita. Kurangnya amalan yang menyebabkan banyak yang berguguran sebelum Ramadhan berakhir. Lihatlah para salaf imam mazhab yang besar, mereka ahli ilmu dan juga ahli ibadah. Mereka berilmu untuk beramal, seperti:
Sufyan ats-Sauri yang meninggalkan amalan sunnah dengan fokus membaca Al-Qur’an,
Imam Bukhari mengkhatamkan Al-Qur’an dalam 3 malam,
Zaid bin Zubair mengkhatamkan Al-Qur’an dalam 2 hari,
Ibnu ‘Abbas mengatakan “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ manusia yang paling dermawan dalam kebaikan. Di bulan Ramadhan kedermawanannya berlipat-lipat,
Ibnu umar tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin.
Apakah amalan kita yang mengaku salafi sudah dekat dengan amalan para salafus shalih? Bagaimana hubungan kita dengan Allah ﷻ?
Dua amalan yang perlu diperhatikan di bulan Ramadhan yaitu membaca Al-Qur’an dan berdoa. Bulan Ramadhan adalah bulan penuh doa.
Dari Abu Hurairah, Rasulullaah ﷺ bersabda:
“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang didzalimi”. (HR.Ahmad)
Dalam dalil tentang Ramadhan surat Al-Baqarah:183-185 berbicara tentang puasa, ayat 186 berbicara tentang doa, ayat 187 tentang puasa. Para ulama mengatakan ini menunjukan bulan Ramadhan adalah bulan doa karena dihimpitnya ayat tentang doa dengan ayat tentang puasa. Lihatlah dimana kita diberikan kemudahan ibadah oleh Allah kemudian fokuslah pada ibadah itu. Ibadah apapun yang Allah mudahkan kita untuk mengerjakannya maka kerjakan dengan ihtisab. Jangan bersedih karena khatam Al-Qur’an tidak sebanyak yang lain karena misalnya untuk menyiapkan buka puasa untuk orang lain, disinilah Allah mudahkan amalan kita. Namun jangan juga ini dijadikan sebagai alasan untuk tidak memperbanyak ibadah-ibadah lain.
Lawan rasa malas sehingga kita mencintai ketaatan. Jangan menunggu semangat baru ibadah, paksakan ibadah sehingga terbiasa dengan ibadah tersebut. Mulailah dari sekarang untuk memperbanyak ibadah. Curi start, jangan menunggu bulan Ramadhan.

Komentar
Posting Komentar